zmedia

Fakta atau Hoaks? Peringatan Iran ke Indonesia soal Perang

Sebuah video di TikTok menyatakan bahwa walikota di Iran memberi peringatan kepada Indonesia karena rentan terkena dampak perang Iran akibat ancaman radiasi dan serpihan roket yang ditembakkan Australia. Pemeriksaan fakta oleh DW menemukan bahwa klaim tersebut tidak benar.

Sebuah unggahan di TikTok menyebarkan informasi bahwa seorang walikota di Iran bernama Madyamohammed Abduur memberi peringatan kepada Indonesia terkait dampaknyaperang yang terjadi antara Iran dan Israel. Postingan ini menyatakan bahwa Indonesia berisiko mengalami paparan radiasi dan serpihan roket dari kapal induk Australia yang dikirim ke Iran.

Sampai saat ini, konten yang diunggah pada 4 Maret 2026 telah ditonton lebih dari 9,4 juta kali dan mendapatkan lebih dari 113 ribulikes. Dari 10.000 komentar yang ada, banyak orang yang percaya pada pernyataan dalam konten tersebut.

Tim Fakta DW Indonesia melakukan pemeriksaan terhadap keabsahan pernyataan dalam konten ini.

Klaim:Wali kota di Iran memberi peringatan kepada Indonesia mengenai kemungkinan dampak perang karena adanya risiko paparan radiasi dan serpihan roket yang ditembakkan dari kapal induk Australia.

Hasil Cek Fakta DW: Salah.

Identitas palsu wali kota

Kami melakukan pencarian terhadap foto yang ada dalam unggahan tersebut.Google Reverse Image. Hasilnya menunjukkan bahwa foto tersebut adalah Hossein Salami, mantan Panglima TertinggiKorps Garda Revolusi. Ia meninggal dunia dalam serangan yang dilakukan Israel pada 13 Juni 2025.

Selanjutnya, kami juga memeriksa nama walikota Iran yang disebut dalam konten, yaitu Madyamohammed Abduur. Hasil pencarian menunjukkan bahwa tidak ada walikota di Iran dengan nama tersebut di situs berita resmi apa pun.

Kami juga menghubungi Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Indonesia guna memverifikasi nama tersebut.

"Tidak ada nama walikota seperti yang disebutkan di atas," ujar Ali Pahlevani Rad, Asisten Duta Besar Iran untuk Indonesia saat dihubungi melalui pesan singkat.

Artikel yang keliru

Konten tersebut juga mengutip sebuah portal berita, Liranews.com. Kami melakukan pencarian dan menemukan artikel yang terbit pada 1 Maret 2026 yang sama dengan konten yang sedang viral. Kami juga menemukan informasi yang serupa antara artikel tersebut dengan konten yang diunggah pada 4 Maret 2026.

Kami juga menghubungi redaksi LiraNews untuk memverifikasi informasi ini. Melalui pesan singkat, redaksi LiraNews mengakui adanya kesalahan dalam artikel tersebut. Mereka menyebut terdapat kesalahan dalam identitas tokoh dan gambar. Pihak mereka telah memperbaiki artikel tersebut dan menambahkan keterangan agar pembaca dapat memahami konteksnya.

Kami menyadari terdapat kesalahan dalam artikel berjudul "Wali Kota Iran Memperingatkan Dampak Perang terhadap Asia Tenggara, Indonesia Perlu Waspada" (...) Artikel belum menyertakan sumber kutipan yang jelas, dan saat ini kami sedang melakukan perbaikan serta menambahkan keterangan agar pembaca dapat memahami konteksnya," tulis redaksi LiraNews dalam keterangan resmi mereka kepada DW Indonesia.

Pernyataan yang salah mengenai kapal induk Australia

Mengenai pernyataan bahwa kapal induk Australia sering mengirimkan roket ke arah Iran, kami memeriksa situs resmi Angkatan Laut Australia. Situs tersebut menyebutkan bahwa Angkatan Laut Kerajaan Australia (RAN) pernah memiliki tiga kapal induk sepanjang sejarahnya, yaitu HMAS Sydney, HMAS Melbourne, dan HMAS Vengeance yang diperoleh dari Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Di dalam laman tersebut juga disampaikan bahwa pada tahun 1982, HMAS Melbourne dinonaktifkan, yang menjadi penutup dari operasi kapal induk di Australia.

Selain itu, menurut Dina Sulaeman, dosen Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, menyatakan bahwa Australia tidak mungkin Selain itu, Dina Sulaeman, dosen Hubungan Internasional dari Universitas Padjadjaran, mengatakan bahwa Australia tidak mungkin Selain itu, berdasarkan pendapat Dina Sulaeman, dosen Hubungan Internasional di Universitas Padjadjaran, Australia tidak mungkin Selain itu, menurut Dina Sulaeman, pengajar di bidang Hubungan Internasional di Universitas Padjadjaran, Australia tidak mungkinmenyerang langsung ke Iran.

"Secara geografis, hal ini tampaknya tidak mungkin karena jarak yang terlalu jauh, dan jalur yang digunakan juga tidak perlu melewati Indonesia. Terdapat jalur yang lebih pendek, jika memang ada rudal yang ditembakkan dari Australia ke Iran, maka bisa langsung melewati Samudra Hindia," ujarnya.

Dina juga menyebutkan kemampuan rudal Australia yang tidak memungkinkan hal itu terjadi.

Pada saat ini, rudal-rudal Australia yang diketahui oleh publik memiliki jangkauan sekitar 400 kilometer. Padahal jarak antara Australia dan Iran sekitar 10 ribu kilometer.

Terlebih lagi, menurut Dina, tidak ada lembaga pers yang dapat dipercaya yang meliput peristiwa ini.

Meskipun konten ini menjadi viral dan telah dibagikan lebih dari 18 ribu kali, tidak ada jaminan terkait keakuratannya.Mengetahui fakta sebuah informasitetap harus dilakukan sebelum mendistribusikannya.


Posting Komentar untuk "Fakta atau Hoaks? Peringatan Iran ke Indonesia soal Perang"