
JAKARTA.Dalam kondisi pasar keuangan yang semakin tidak stabil, beberapa perusahaan dengan arus kas yang baik semakin aktif melakukan tindakan korporasi seperti pembelian kembali saham.
Tindakan ini dianggap sebagai salah satu cara untuk mempertahankan stabilitas harga saham sambil menunjukkan kepercayaan manajemen terhadap dasar perusahaan.
Daftar Perusahaan Melakukan Pembelian Kembali Saham
Baru-baru ini, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) berencana melakukan pembelian kembali saham dengan anggaran mencapai Rp 750 miliar. Langkah ini akan dilaksanakan setelah mendapatkan persetujuan dari pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), dengan masa pelaksanaan mulai tanggal 22 Mei 2026 hingga 21 Mei 2027.
Sebelumnya, PT Autopedia Sukses Lestari Tbk (ASLC) juga memiliki rencana untuk melakukan pembelian kembali saham sebesar Rp 20 miliar dengan tujuan meningkatkan likuiditas perdagangan saham agar harga saham mencerminkan kondisi dasar perusahaan.
Pada awal bulan April 2026, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mengumumkan program pembelian kembali saham sebesar Rp 500 miliar yang akan berlangsung dari tanggal 2 April hingga 2 Juli 2026.
Masih pada bulan yang sama, PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS) mengumumkan rencana pembelian kembali saham sebesar US$ 3,52 juta atau sekitar Rp 59,84 miliar (kurs Rp 17.000). Perusahaan pelayaran lainnya, PT IMC Pelita Logistik Tbk (IMPC), juga menyiapkan dana buyback senilai Rp 50 miliar.
Di akhir bulan Maret 2026, PT United Tractors Tbk (UNTR) mengumumkan rencana pembelian kembali saham besar dengan nilai mencapai Rp 2 triliun.
Tiga Penyebab Meningkatnya Program Pembelian Kembali
Analis dari BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, mengatakan ada tiga hal utama yang menyebabkan meningkatnya kebijakan pembelian kembali saham di pasar modal.
Pertama, perbaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menyebabkan banyak saham turun ke tingkat yang dianggap tidak mencerminkan kondisi dasar perusahaan.
Kedua, arus kas yang kuat dari sejumlah perusahaan besar seperti UNTR, KLBF, dan INTP memungkinkan perusahaan untuk melakukan pembelian kembali saham dalam jumlah yang besar. Kondisi ini juga menjadi tanda bahwa kondisi keuangan perusahaan tetap stabil.
Ketiga, buyback dianggap sebagai pilihan penggunaan dana yang lebih efektif dalam situasi ketidakpastian ekonomi. "Daripada memaksakan pengeluaran modal (capex) baru di tengah ketidakpastian makro, manajemen memilih mengembalikan nilai kepada pemegang saham," katanya, Rabu (15/4/2026).
Pembelian Kembali Saham Mendorong EPS dan Sentimen Pasar
Analis dari Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, menganggap tindakan buyback menunjukkan kepercayaan pihak manajemen terhadap potensi bisnis perusahaan dalam jangka panjang.
Menurutnya, buyback juga mampu meningkatkan laba per saham (EPS) karena jumlah saham yang beredar menurun, sehingga memberikan dampak positif terhadap valuasi perusahaan.
Secara singkat, saham yang melakukan pembelian kembali dapat mengalami kenaikan harga. Namun, ia menegaskan bahwa situasi ini tetap dipengaruhi oleh perasaan pasar global.
"Namun, jika sentimen global tidak mendukung, maka harga saham yang sedang dalam masa buyback kemungkinan besar akan turun kembali," tambahnya, Rabu (15/4).
Efek Penilaian dan Perasaan Investor
Abida menjelaskan bahwa pelaksanaan buyback mampu menciptakan permintaan tambahan di pasar yang memberikan dukungan psikologis terhadap pergerakan saham. Meskipun demikian, dampaknya tidak selalu langsung meningkatkan harga secara signifikan.
Dari segi penilaian, pengurangan jumlah saham yang beredar dapat meningkatkan EPS dan Return on Equity (ROE), sehingga berpotensi menghasilkan peningkatan penilaian secara alami.
"Dari segi penilaian, buyback akan mengurangi jumlah saham yang beredar, yang secara langsung meningkatkan EPS (Earning per Share) dan ROE (Return on Asset), sehingga memicu peningkatan penilaian secara alami," jelasnya.
Ia menyampaikan, tren pembelian kembali diperkirakan akan terus berlangsung selama ketidakstabilan pasar tetap tinggi dan investor asing masih melakukan penjualan bersih.
Strategi Investasi Saat Perusahaan Melakukan Pembelian Kembali Saham
Bagi para investor, waktu terbaik untuk memasuki pasar tidak selalu terjadi saat pengumuman buyback diumumkan, karena harga biasanya sudah merespons sebelumnya. Menurut Abida, kesempatan yang lebih menarik justru muncul beberapa hari setelah pengumuman, ketika antusiasme mulai menurun.
Investor juga bisa memanfaatkan masa buyback yang sedang berlangsung untuk mendapatkan dukungan harga dari tindakan pembelian perusahaan.
Namun, risiko tetap harus diperhatikan, khususnya jika pelaksanaan buyback tidak maksimal atau jika tindakan tersebut hanya bertujuan menjaga harga tanpa diikuti perbaikan dasar perusahaan.
Di sisi lain, Arinda menganggap buyback sebagai tanda bahwa saham berada pada tingkat harga yang cukup rendah, sehingga bisa menjadi kesempatan bagi para investor untuk menambahkan posisi mereka.
Namun demikian, para investor tetap perlu memperhatikan kondisi dasar perusahaan serta risiko luaran, termasuk perubahan politik internasional yang bisa berdampak cepat terhadap pergerakan pasar.
"Di samping itu, ketegangan geopolitik yang bisa berubah sangat cepat juga menjadi tanda untuk tetap waspada karena pergerakan saham bisa berubah dengan sangat cepat," katanya.
Rekomendasi Saham dari Analis
Arinda menyarankan para investor untuk memperhatikan saham INTP, KLBF, dan UNTR yang dianggap masih menarik dari segi valuasi jangka panjang.
Di sisi lain, Abida menyarankan saham UNTR dengan dukungan proyeksi arus kas bebas mencapai Rp 34,7 triliun pada tahun 2026 serta diversifikasi ke sektor emas yang dianggap menguntungkan.
Selain itu, KLBF juga disarankan untuk dibeli karena konsisten melakukan pembelian kembali saham meskipun harga saham sedang melemah, yang menunjukkan keyakinan manajemen terhadap prospek pertumbuhan laba dua digit yang berkelanjutan.
Posting Komentar untuk "Banyak Emiten Lakukan Buyback Saham Saat Volatilitas Tinggi, Ini Alasannya"