Jakarta, IDN Times - Senat Amerika Serikat (AS) kembali menolak usulan yang bertujuan membatasi wewenang presiden Donald Trump dalam berperang di Iran pada hari Rabu (15/4/2026). Pemungutan suara ini berakhir dengan 47 suara mendukung dan 52 suara menolak dari anggota parlemen.
Penolakan terbaru merupakan kegagalan keempat yang dialami pihak Demokrat sejak operasi militer dimulai pada akhir Februari. Resolusi ini meminta penarikan seluruh pasukan Amerika Serikat, kecuali jika ada pernyataan perang resmi dari Kongres.
1. Kubu Partai Demokrat akan terus memberikan tekanan kepada Partai Republik
Senator Partai Demokrat Tammy Duckworth menjadi pengusul utama dari rancangan aturan tersebut. Ia berpendapat bahwa pemerintah perlu segera mengakhiri konflik yang tidak diperlukan dan membebankan biaya besar ini.
Meski usulan mereka kembali gagal, Senator Partai Demokrat Chuck Schumer berjanji akan terus memberikan tekanan secara berkala. Kelompoknya siap mengajukan pemungutan suara terhadap resolusi pembatasan ini setiap minggu.
"Jika Republik kembali menolak, kami akan terus mendorong pemungutan suara terhadap resolusi ini setiap minggu. Tindakan ini dilakukan hingga perang berakhir atau mereka berani melawan Donald Trump," kata Schumer, dikutip.Anadolu Agency.
Ada dua pengecualian menarik terkait dukungan partai dalam pemungutan suara ini. Senator Partai Republik Rand Paul memberikan dukungannya, sedangkan Senator Partai Demokrat John Fetterman justru menolak resolusi tersebut.
2. Masa 60 hari menjadi penentu utama
Prediksi arah dukungan Partai Republik dapat berubah ketika perang memasuki bulan kedua pada akhir April mendatang. Undang-Undang Kekuasaan Perang 1973 menetapkan batas waktu 60 hari bagi presiden dalam mengirim pasukan tanpa persetujuan Kongres.
Beberapa anggota legislatif kini mulai menyoroti kepentingan mematuhi tenggat waktu yang telah ditentukan. Senator Thom Tillis dan John Curtis mengakui bahwa mereka tidak bersedia mendukung perang tanpa persetujuan resmi dari Kongres.
Tekanan semakin meningkat akibat dampak ekonomi yang mulai menghimpit masyarakat di dalam negeri. Senator Josh Hawley menyerukan adanya strategi keluar secepatnya karena harga bahan bakar terus melonjak tajam.
"Sederhana saja: mereka bisa memilih untuk bergabung denganku dalam mengakhiri konflik ini dan membuktikan bahwa mereka benar-benar menjunjung tinggi Amerika, atau mereka bisa memilih untuk mengutamakan ego Trump. Dengan perang yang semakin tidak terkendali setiap harinya, jelas bahwa mereka tidak bisa terus melakukan keduanya," kata Duckworth, dilansirCBS News.
3. Ancaman embargo di tengah perjanjian gencatan senjata
Perselisihan politik di Washington terjadi ketika militer Amerika Serikat dan Iran sedang menjalani gencatan senjata selama dua minggu. Upaya negosiasi perdamaian antara kedua pihak di Pakistan sebelumnya tidak berhasil mencapai kesepakatan yang diinginkan.
Pada masa jeda pertempuran, pasukan militer Amerika Serikat tetap menerapkan pembatasan laut yang ketat di perairan Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) melaporkan bahwa tidak ada kapal pun yang berhasil melewati pengawasan mereka dalam dua hari terakhir.
Angkatan bersenjata Amerika Serikat melaporkan sembilan kapal yang dipaksa kembali setelah ketahuan berusaha melewati perbatasan. Blokade ini telah memicu reaksi tajam dari para pejabat militer Iran.
"Jika Amerika Serikat, yang merupakan agresor dan teroris, berusaha melanjutkan tindakan ilegalnya dengan melakukan blokade angkatan laut di wilayah tersebut serta menciptakan ketidakstabilan bagi kapal-kapal dagang dan kapal tanker minyak Iran, tindakan AS ini akan menjadi awal dari pelanggaran gencatan senjata," kata komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Mayor Jenderal Ali Abdollahi, seperti dilaporkan.Al Jazeera.
Iran Mengancam Menutup Jalur Perdagangan di Teluk Jika Pemotongan Akses oleh AS Berlanjut Trump Mengatakan Perang AS-Iran Hampir Berakhir, Pembicaraan Terus Berlangsung

Posting Komentar untuk "Senat AS Gagal Putuskan Perang Iran Kali Keempat"